Cerita Sange Kisah Cinta Dengan Bibi Sendiri
Cerita 18+, Cerita Bokep, cerita sange, Cerita Sex, Tante binal, Cerita 18+, Cerita dewasa, Cerita Sange, Cerita sex, Fantasi, Tante
ceritasange.com – Namaku Jaka, aku anak dari ayah dan ibuku yang tidak sanggup membiayai kehidupan kami. Hasilnya aku hidup dengan bibiku dan pamanku yang bernama Masitoh dan Rohman.
Sudah sedari kecil sampai sekarang aku berusia 21 tahun merekalah yang merawat aku, mulai dari mandi sampai makanpun.
Bi Masitoh sudah mempunyai dua orang anak, tapi mereka tidak keberatan aku tinggal dengan mereka. Aku sendiri kini sudah bekerja jadi kuli bangunan, sekolah yang tidak tamat menjadikan aku seorang kuli bangunan.
Anak yang kedua Bi Masitoh masih bayi yaitu baru berusia 9 bulan, masih menyusui. Bi Masitoh tidak pernah risih menyusui bayinya di depan aku. Kadang Bi Masitoh menyusui bayinya sambil nonton televisi dengan aku dan paman Rohman. Seperti paman Rohman, aku biasa-biasa saja melihat Bi Masitoh menyusui anaknya, padahal kalau mau jujur, payudara Bi Masitoh sangat gemuk dan padat berisi.
Tapi masa sih aku sampai ingin macam-macam dengan bibiku yang sudah sangat baik padaku?
Suatu hari aku dapati paman Rohman telat bangun, karena gak biasanya dia gak shalat subuh di mesjid. Sekarang jam 7 pagi dan dia belum keluar dari kamar, mungkin lagi libur pikirku.
Aku sendiri sedang tidak ada kerjaan dan hanya mengasuh anak mereka yang pertama dan berumur 6 tahun.
“Yud, tumben Papah belum bangun?” tanyaku pada Yudi.
“Sudah Om, cuma Papah gak pakai baju jadi gak keluar, dingin katanya.” Jawab Yudi.
Ringan betul kata anak ini, aku yang sudah dewasa tahu betul kalau paman dan bibiku usai tempur di ranjang, karena aku dikagetkan dengan pamanku yang keluar kamar dan benar kata Yudi kalau dia bertelanjang dada.
“Baru bangun Paman? Nggak masuk kerja?” tanyaku.
“Iya, ini baru saja habis dipijitin sama bibi kamu.” jawab paman Rohman sambil berlalu dan dia entah sengaja atau tidak pintu kamarnya tidak tertutup sempurna, aku saat itu juga tumben-tumbenan penasaran. Padahal aku tahu kalau orang berhubungan intim pasti telanjang, tapi jujur selama tinggal bersama bibiku dari kecil, aku selalu kagum dengan bulu jembut bibiku yang lebat.
Aku sendiri tau akan hal ini karena sering mandi bareng bersamanya, itu membekas dan tidak dapat aku lupakan.
Aku intip bibiku yang aku sendiri tidak tahu apa yang dia lakukan, jantungku berdetak kencang saat menyaksikan pemandangan yang sangat jarang. Karena aku melihat bibi Masitoh belum memakai baju dan hanya memakai selimut saja, dia sedang menyusui keponakanku. Pandanganku terpaku kepada dada dan lehernya yang begitu banyak tanda merah, gila paman Rohman mainnya, pikirku.
Saat mendengar suara kamar mandi terbuka, aku langsung kembali bermain dengan Yudi. Paman Rohman memang cuek dan memakai handuk saja usai mandi, lebih gilanya lagi pintu kamarnya kini terbuka setengah dan dari posisi dudukku sekarang dapat aku melihat dirinya membuka handuk yang dia pakai.
“Pah, tutup pintunya!” suruh bibi Masitoh.
“Alah, tanggung. Lagian si Jaka mau ngapain ngintip papah?”
Aku dengar perbincangan mereka, mungkin iya buat apa juga aku mengintip paman Rohman, pantat yang berbulu dan berwarna hitam tidak jauh beda dengan punyaku.
Justru karena cueknya aku bisa menyaksikan bibi Masitoh yang hendak berdiri rupanya dia berdiri untuk menutup pintu.
“Kamu gak malu Pah, tapi Mamah kan malu, lihat nih tanda merah.” Kata Bi Masitoh menunjukkan bekas cipokan suaminya yang berwarna merah di leher dan dadanya pada paman Rohman.
Karena rumah yang cukup sempit aku bisa mendengar perbincangan mereka berdua, selain itu pada saat yang sama Bi Masitoh tidak menyadari aku melihat tubuhnya yang telanjang sewaktu dia pergi menutup pintu kamar.
Siang harinya paman Rohman seperti biasa akan pergi bekerja karena memang dia kebagian jadwal masuk siang, aku membersihkan rumput yang ada di depan rumahnya.
“Nanti saja sore kerjainnya Ka, apa kamu gak lihat matahari lagi terik gitu?” kata Bi Masitoh tampak menggendong anaknya sambil menyusui.
Anjir, batinku, kenapa kali ini aku jadi terangsang saat melihat payudara Bi Masitoh yang padahal aku sudah biasa melihatnya?
Mungkin hal itu disebabkan adanya tanda merah yang masih berbekas di payudara Bi Masitoh akibat perbuatan paman Rohman.
Aku buka bajuku karena keringat sudah membasahi tubuhku.
“Kamu sudah dewasa ya Jaka, bulu kamu saja udah banyak gitu,” kata Bi Masitoh.
“Ah, Bibi bisa saja, kan Bibi tahu kalau aku kaya gini?” jawabku.
Memang tubuhku tegap atletis dan dadaku yang bidang banyak bulunya.
“Iya, dulu kamu Bibi mandikan, bulu-bulu kamu belum sebanyak sekarang.” balas Bi Masitoh dibarengi dengan tersenyum pada akhirnya, Bi Masitoh tidak sadar kalau perkataannya itu membangkitkan gairahku.
Gilanya aku berpikir bagaimana kalau kemaluan kami bersatu, penisku yang berbulu bersatu dengan vaginanya yang berbulu.
“Heh, kamu melamun apa?”
“Gak Bi, aku cuma haus saja.”
Aku mengelak sebisa mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan kalau sekarang batang kemaluanku sudah berdiri tegang.
Sehabis shalat isya aku dihadapkan dengan sesuatu yang membuatku gundah gulana, karena jujur saja sedari tadi penisku berdiri tegak dan rasanya tidak mau turun dalam kondisi semula.
Untuk meredahkan keteganganku, aku sebenarnya sudah biasa masturbasi tapi tidak pada jam seperti ini. Aku lakukan itu sekitar jam 12 malam, mungkin yang paling enak itu adalah saat suara erangan paman Rohman berkumandang agak kencang. Jadi aku bisa ikut mengerang serasa sedang menindih Bi Masitoh.
Aku terpaksa mengocok penisku penuh semangat dengan sedikit erangan karena aku sudah sangat horny, sehingga pada saat aku asyik-asyik mengocok dan beberapa detik lagi sampai puncaknya aku mau ejakulasi, terdengar suara memanggilku, “Jaka…”
O… astagaa..aa… aku tidak sadar kalau pintu kamarku terbuka dan disana Bi Masitoh menyaksikan aku sedang onani.
Buru-buru aku menutup penisku dengan selimut, bukannya pergi justru Bi Masitoh malah menghampiriku.
“Kamu ngapain?”
“Ma… maaf Bi, gak tau tiba-tiba pingin aja,”
“Astaga Jaka, kamu segera menikah saja biar gak kaya gitu terus.” kata Bi Masitoh.
“Menikah dengan siapa Bi?”
Bibiku terdiam.
“Atau kamu pernah melakukannya dengan wanita?” tanya Bi Masitoh kemudian memandangku.
“Gak Bi, Jaka gak pernah melakukan hubungan badan sebelumnya.”
Tiba-tiba saja Bi Masitoh duduk di pinggiran kasurku, dia nampak resah dan gelisah, matanya tampak sendu.
“Sudah sering kamu melakukan kayak gini?”
Aku menganggukkan kepalaku dan mengaku kalau mungkin bisa 4 atau 3 kali dalam seminggu aku onani. Wajah Bi Masitoh tampak terperangah seolah tidak percaya kalau aku orang yang seperti itu.
“Apa Bibi mau bantu aku?”
Sungguh berani aku berkata seperti itu, sudah pasti aku akan mendapatkan dampratan dari Bi Masitoh.
“Bibi harus gimana?” tanya Bi Masitoh.
Hatiku lega sekaligus bahagia dengan pertanyaan dari bibiku.
“Apa kita bisa melakukannya?”
“Apa…???”
Bibiku langsung menatap tajam padaku, dia seolah menolak dengan pertanyaanku.
“Bibi gak mau lakukan itu.”
“Aku janji Bi, aku gak bakalan masukan, cuma gesek-gesek doang…”
“Alah, nanti pasti kamu masukkan,”
“Aku janji Bi, gak bakalan aku melakukan itu.”
Sejenak bibiku terdiam seolah memikirkan apa yang aku katakan, sampai akhirnya dia berkata mau hanya untuk menggesek saja, akupun tanya alasannya dan dia hanya menjawab kalau pagi tadi paman Rohman cuma kuat 3 menit saja.
Aku cium pipinya, dia menolak, rupanya dia ingin ke bagian intinya saja. Jelas itu membuat aku kecewa walaupun senang karena aku ingin menikmati bibirnya, meremasi payudaranya. Tapi berhubung bibiku menolak jadi aku hanya bisa pasrah saja.
Dia lepaskan celana dalam yang ada di balik dasternya, warnanya merah muda dan jujur aku ingin mencium aromanya.
“Ayo buka punya kamu.”
Aku buka celanaku dan memperlihatkan penisku di balik celana dalam berwarna hitam milikku.
“Ya sudah sini Bibi gesek,”
Aku berbaring dan dia berada di atas tubuhku, sementara vaginanya yang tanpa celana dalam terus menggesek penisku yang masih terbungkus celana dalam.
Jujur saja aku ingin membuka celana dalamku tapi aku takut dia marah, tapi aku cukup memberanikan diri untuk mengatakan itu.
“Bi, boleh aku buka celana dalamku?”
“Jangan ih, nanti kamu masukin.”
“Enggak Bi, aku janji.”
“Awas ya,”
Aku buka celana dalamku dan kini kemaluanku bagai hutan rimba saja, aku hanya bisa diam saat bulu-bulunya terus menggesek penisku yang berdiri tegang. Beberapa kali gesekan vagina Bibi Masitoh hampir membuat penisku masuk, tapi aku hanya mengerang saja.
“Bi, punya Bibi sudah basah sekali.”
“Iya, kamu diam saja. Jangan macam-macam.”
Aku ikut menggoyangkan badanku karena jujur aku tidak tahan, tanpa dia sadari aku peluk tubuhnya dan satukan bibirku dengan bibirnya. Aku terkejut saat lidahku ditarik masuk olehnya, tanpa basa-basi aku menelanjanginya begitu juga aku.
“Ingat, jangan dimasukkan.”
“Iya Bi,”
Posisiku masih ada di bawah tubuhnya dan vaginanya semakin basah saja. Payudaranya yang telanjang tampak montok berisi ASI. Putingnya hitam, tapi bekas cipokan paman Rohman pada payudara Bi Masitoh yang menggelantung bergoyang-goyang di depanku itu belum sirna.
“Ahh… enak sekali Jaka…” desah Bi Masitoh.
Kemudian aku mencari cela bagaimana penisku bisa masuk ke dalam vaginanya, tapi hebatnya bibi Masitoh luar biasa. Dia hanya memasukkan kepala penisku saja dan menggoyang-goyangkannya, sementara aku terus memajukan penisku agar masuk secara utuh.
Aku tidak kuat lagi menahan napsuku yang digesek dengan bulu jembut Bi Masitoh yang sangat lebat, sampai akhirnya sebelum datang ejakulasiku Bi Masitoh sudah orgasme duluan.
Saat dia menghempaskan tubuhnya ke kasur itulah aku paksakan batang penisku menerobos lubang vagina Bi Masitoh dan ternyata dengan sekali sodok lubang yang licin dan basah itu menenggelamkan hingga seluruh batang kemaluanku masuk semuanya, sungguh nikmat rasanya.
“Enak sekali Bi… oohhh…” desahku
“Kan jangan dimasukin, kenapa kamu masukin?” tanya Bi Masitoh agak marah.
“Habis…” jawabku pura-pura menyesal sambil menahan nikmat supaya spermaku tidak cepat keluar.
“Ya sudah, tapi jangan sampai ketahuan siapa-siapa ya…?”
Yess…! Yess…! Yess…!
Tetapi sempat membuat aku bengong sejenak… kemudian penisku yang tegang dan keras itu mulai menggenjot lubang vagina Bi Masitoh.
Ketika batang penisku hilir mudik menggesek-gesek dinding vagina Bi Masitoh, ohh… apalagi sambil mulutku menyedot puting payudaranya yang mengeluarkan susu….
“Ooohhh… oohhh… ooohhh…” desahku, karena enak dan nikmat sembari air susu dari payudara Bi Masitoh yang rasanya sedap, anyep dan hangat itu sherr… sherrr… sherrr… mengalir masuk ke tenggorakanku.
“Enak ya…?” Bi Masitoh bertanya padaku, “Tapi jangan berisik gitu ah…”
“Nggak bisa ditahan Bi…”
“Bibi juga merasa nikmat, maka itu ditahan dulu, jangan buru-buru dikeluarkan ya…” kata bibiku.
Tetapi apalah dayaku semakin aku tidak ingin mengeluarkannya, semakin aku tidak tahan apalagi ditambah goyangan pinggul Bi Masitoh…
Tidak lama berselang tubuhkupun mengejang bersamaan waktunya suara sepeda motor terdengar di halaman rumah.
Aku kelabakan, tetapi penisku masih terus menyemburkan air mani di dalam lubang vagina Bi Masitoh, sedangkan Bi Masitoh tampak berbaring tenang saja sambil menerima semprotan air maniku di rahimnya.
Setelah kantong spermaku kosong aku baru mencabut batang penisku yang masih dalam keadaan tegang dari lubang vagina Bi Masitoh. Sesaat kemudian terdengar suara ketukan pintu rumah dibarengi suara tangisan anak kedua bibiku.
Bi Masitoh membersihkan vaginanya yang sudah kukotori dengan air mani perjakaku itu dengan dasternya sambil berteriak, “Sebentar…!”
Dia lalu turun dari tempat tidur pergi dari kamarku membuka pintu rumah. Tidak ada kecurigaan dari pamanku karena dia memang orangnya cuek, mungkin kalau aku sering-sering menggenjot memek istrinya dia gak bakalan marah.
Satu hal yang membuat aku bahagia adalah celana dalam Bi Masitoh yang tertinggal di kamarku tentu saja itu menjadi hal istimewa.
Aku tatapi celana dalamnya itu yang terdapat noda kuning pada bagian tengahnya, aku endus aromanya sampai membuat aku tertidur.
Aku terbangun teringat dengan peristiwa semalam aku menggenjot lubang vagina Bi Masitoh, paling tidak sewaktu aku bertemu dengan paman Rohman. Tapi dasar paman Rohman orangnya cuek, setelah paman Rohman pergi bekerja dan Bi Masitoh menidurkan anaknya, melihat waktu Bi Masitoh senggang, aku berani merayu Bi Masitoh.
Bersambung. . .
