Cerita Sange Jatah Mantan Ku
Cerita 18+, Cerita Bokep, cerita sange, Cerita Sex binal, Cerita 18+, Cerita dewasa, Cerita Sange, Cerita sex, Fantasi
ceritasange.com – Bak disambar petir di siang bolong. Ayah ku yang baru saja tiba, setelah satu bulan penuh pergi bekerja di kota. Dengan suara lantang dan keras mentalak ibuku yang sedang terbaring di atas kasur karena sakit.
“Aku Agung Nugraha, dengan sadar dan sehat. Hari ini aku talak kamu Irma,” aku yang sedang membuat minum untuk ibu ku di kagetkan oleh suara tangis ibu ku. Tanpa menunggu air itu mendidih, aku langsung pergi melihat apa yang terjadi di depan. Saat aku tiba disana ibuku sedang menangis terisak-isak oleh ucapan ayahku.
“Ibu!” Aku menjerit saat melihat ibuku menangis histeris. “Apa yang terjadi bu!” Tanyaku sambil memeluk tubuh ibuku yang bergetar karena menangis.
“Tidak apa-apa nak, ibu baik-” sebelum ibuku menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ayah ku memotong ucapannya.
“Meli, mulai sekarang ibumu ayah talak. Ayah tidak mau mempunyai istri yang sakit-sakitan seperti itu,” pungkas ayahku sambil berkacak pinggang.
“Apa maksud ayah! Ayah tidak boleh seperti itu pada ibu. Ibu saat ini sangat membutuhkan ayah, hanya aku dan ayah yang ibu punya dan hanya kita yang bisa membuat ibu bertahan saat ini,” sanggah ku sedikit emosi.
“Laki-laki mana yang mau mempunyai istri yang sakit-sakitan seperti itu hah. Ayah ini masih muda, masih kuat. Ayah butuh pendamping yang sehat dan cantik, bukan seperti ibumu yang setiap hari hanya bisa berbaring diatas kasur. Ayah malu sama tetangga dan teman-teman ayah meli, jadi mau tidak mau kamu harus bisa menerima kenyataan ini,” sungut ayahku sambil menunjuk wajah ibuku yang terbaring sambil terisak.
“Ayah! Tidak sepantasnya ayah berkata seperti itu! Ingat ibu sakit seperti ini juga gara-gara ayah. Siang malam ibu pergi bekerja untuk kebutuhan ayah, jad-” aku berkata dengan penuh emosi aku tidak bisa mengontrol amarahku sehingga secara tidak sadar ibuku bangun dan menarik ku.
“Sudah meli hentikan. Yang ayahmu katakan itu benar, ayah masih muda dan dia sangat membutuhkan pendamping yang sehat. Bukan seperti ibu yang hanya bisa menyusahkan saja nak,” papar ibuku sambil menggenggam tanganku.
“Tapi bu,” tolak ku dengan tidak ikhlas.
“Sudah sayang.” Imbuh ibuku lagi.
“Baik bu. Dan untukmu ayah, seharusnya kamu bersyukur mempunyai istri sebaik dan sesoleh ibuku. Aku doakan semoga hidupmu penuh penyesalan,” gumam ku dengan menatap tajam ke arah ayahku berdiri.
“Ha ha ha. Soleha katamu! Asal kamu tahu saja, ibumu yang selama ini kamu bangga-banggakan itu pelacur. Dia itu wanita malam yang selalu dijamah oleh laki-laki hidung belang di luaran sana. Bahkan kau lahir dari benih campuran dari laki-laki itu,” cibir ayahku penuh rasa menghina.
“Bu apa maksud ucapan ayah?” Tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Cukup Agung, sudah cukup omong kosongmu. Jika kamu ingin berpisah denganku maka aku menerima keputusanmu. Dan sekarang tolong tinggalkan rumahku, pergi kamu dari sini!” Usir ibuku sambil melempar bantal dan guling ke arah ayah.
“Bagus jika kamu menerimanya, dan untukmu meli? Tolong di ingat apa yang ayah katakan tadi, jika ibumu itu seorang pelacur. Ha ha ha ha,” sebelum ayahku pergi dia sempat mengulang apa yang tadi dia katakan. Aku semakin ingin tahu dan penasaran dengan semua ini.
“Bu, bisa kau jelaskan apa yang dikatakan ayah tadi?” Pintaku sambil menatap sendu wajah ibuku.
“Jangan dengarkan omong kosong ayahmu, dia hanya ingin membuatmu membenci ibu saja.” Ucap ibuku sambil memeluk tubuhku. Entah kenapa hari ini pertama kali aku tidak mempercayai ucapan ibuku. Aku merasa ibuku sedang menutupi kebenaran dari ku.
“Tapi, mengapa ayah berkata seperti itu bu?” Tanyaku kurang puas terhadap ucapan ibu tadi.
“Sudah meli, ibu bilang jangan dengarkan ucapan si brengsek itu,” tegas ibuku sambil memalingkan wajahnya.
“Baik bu,” walaupun aku penasaran dengan semua ini. Tapi, aku tidak tega bertanya pada ibuku saat ini. Mungkin suatu saat nanti kebenaran akan terlihat dan tuhan akan segera menunjukkan jalannya.
“Ya sudah lebih baik ibu istirahat dulu,” titahku sambil membantu ibuku berbaring.
“Meli!” Pekik ibuku.
“Iya bu, ada apa?” Tanyaku dengan kening berkerut.
“Ini, ini seperti bau gosong. Apa kau sedang memasak?” Tanya ibuku yang memang aroma bau gosong itu semakin pekat.
“Tidak bu. Tapi, tadi aku!” Jawabku sedikit berpikir. “Oh astaga aku sedang merebus air untuk ibu tadi,” tanpa membantu ibuku berbaring, aku langsung berlari ke arah dapur. Dan benar saja kepulan asap hitam memenuhi seisi ruangan dapur kami yang sempit. Ada percikan api kecil yang mulai merambat ke sekitar rak piring.
“Ya Tuhan api, bu ada api bu!” Aku menjerit saat melihat percikan api yang sedikit demi sedikit mulai membesar.
“Meli cepat kemari nak, cepat!” Terdengar suara ibu memanggilku, aku bingung harus pergi atau mencoba memadamkan apinya. Tapi, dengan menimbang pikiranku dan melihat api mulai membesar akhirnya aku pergi.
“Bu ayo bu kita keluar, api, api sudah mulai membesar!” Segera ku bantu ibuku bangun dan dengan cepat aku menggendong ibuku di punggung. Walaupun sedikit berat tapi, aku mencoba kuat demi keselamatan kami bersama.
“Tolong,, tolong ada api. Kebakaran!” Aku dan ibu berteriak meminta tolong dan beruntung ada banyak warga yang membantu kami memadamkan api.
“Pak tolong rumah kami kebakaran!” Ucapku dengan sedikit gemetar.
“Ayo si neng nya menjauh dulu. Biar bapa dan yang lain coba memadamkan apinya,” aku dan ibuku pun di tuntun ke tempat yang lebih aman. Sedangkan yang lain mulai sibuk mencari air untuk memadam api. Setelah kurang lebih setengah jam akhirnya api yang membakar rumahku berhasil di padamkan.
“Terima kasih bapak-bapak semuanya,” ucap ibuku sambil menundukkan kepalanya.
“Iya bu sama-sama.” Balas bapak-bapak itu.
Semenjak kejadian itu kesehatan ibuku mulai menurun. Aku tidak tahu harus berbuat apa, jangankan untuk membawa ibuku ke rumah sakit. Untuk makan sehari-hari pun kami sulit.
“Astaga ibu, badan ibu panas sekali?” Tegur ku sambil mengecek suhu tubuh ibuku.
“Ibu hanya kurang enak badan saja nak, sebentar lagi juga ibu sembuh,” terang ibuku sambil memalingkan wajahnya.
“Kita harus kerumah sakit bu, aku tidak mau ibu kenapa-kenapa!” Aku bergegas mencari mantel untuk menutupi tubuh ibuku agar tidak kedinginan.
“Tidak usah meli. Ibu baik-baik saja, lagipula kita tidak punya uang untuk membayar rumah sakit.” Pungkas ibuku yang menolak ajakan ku.
“Itu tidak penting bu. Yang terpenting sekarang ibu harus bisa mendapatkan perawatan medis, soal uang aku bisa mencarinya!” Dengan sedikit paksaan akhirnya ibuku mau pergi ke rumah sakit. Setelah tiba di sana alangkah terkejutnya aku saat dokter mengatakan penyakit yang di derita ibuku selama ini.
“Apa dokter? Ibuku sakit kangker payudara stadium akhir!” Tanya ku dengan perasaan terkejut.
“Benar. Dan ibu anda harus segera melakukan operasi, walaupun kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Tapi, kami akan berusaha semaksimal mungkin,” terang dokter itu dengan menatapku penuh rasa iba.
“Baik dok, lakukan yang terbaik untuk ibuku.”
Dengan perasaan bingung dan juga hancur, aku terus berjalan dengan pandangan kosong. Bagaimana tidak, selama ini orang yang paling dekat dengan ku, orang yang paling menyayangiku ternyata sedang sakit parah. Bahkan aku tidak tahu sampai berapa lama dia bisa bertahan hidup, dengan penyakit yang dideritanya.
“Ibu, kenapa kau menyembunyikan sakit mu selama ini padaku bu!” Tanya ku dalam diam, aku tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas saat ini aku benar-benar bingung, pasalnya aku harus mempunyai uang 200 juta rupiah agar ibuku bisa di operasi.
Flashback on.
“Lakukan yang terbaik untuk ibuku dok,” pintaku dengan air mata mengiba.
“Tapi, untuk biaya operasi ibu anda di rumah sakit ini tidaklah murah. Aku khawatir jika anda tidak mampu membayarnya!” Terang dokter itu, sambil menopang dagu.
“Berapa banyak, berapa banyak biaya yang ibu saya butuhkan dok?” Tanya ku kembali pada dokter yang ada di depanku dengan tidak sabar.
“Kurang lebih 200 juta. Dan itupun tidak termasuk sewa kamar, juga obat-obatan pasca operasi ibu anda nanti,” jawab dokter itu sambil mengecek data-data ibuku.
“Apa dok, 200 juta?” Pekik ku sambil menutup mulut.
“Iya. Dan uang itu harus sudah ada besok sore, agar ibu anda bisa langsung segera dioperasi. Karena jika tidak segera mendapatkan tindakan, saya khawatir jika nyawa ibu anda tidak akan tertolong,” aku hanya bisa menghela nafas berat. Saat dokter menjelaskan rincian biaya rumah sakit ibuku seluruhnya, pasalnya dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam jangka waktu 10 jam.
Flashback off.
“Argh, dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu sekarang. Jangankan 200 juta, satu juta saja pun aku tidak punya,” gumamku sambil mengacak-acak rambut. Saat aku sedang sibuk dengan pikiranku tiba-tiba dari seberang jalan terdengar seseorang memanggil namaku. Ternyata itu Andre, mantan kekasihku dulu saat aku masih duduk di bangku sekolah kelas 6 SD.
“Melinda?” Pekik seseorang dari seberang jalan tempat ku berdiri.
“Andre,” gumamku sedikit mengernyit.
“Meli, tunggu aku di situ!” Andre langsung berlari menghampiri ku dengan tersenyum manis.
“Andre, sedang apa disini? Bukankah kau pergi keluar negeri!” Tanya ku dengan sedikit malas, bukan tidak senang berjumpa dengannya kembali. Tapi, karena rasa benciku padanya mengalahkan rasa kerinduan di hatiku.
“Meli, aku merindukanmu?” Cicit Andre sambil memeluk tubuhku.
“Andre, lepas jangan seperti ini?” Kataku sambil mendorong tubuh Andre yang sedang memelukku.
“Kenapa Mel? Biarkan aku memelukmu, aku sungguh merindukanmu,” tawarnya semakin mengeratkan pelukannya.
“Stop Andre, tolong lepaskan aku. Jangan buat aku marah,” pintaku untuk yang kedua kali.
“Ok, ok. Maafkan aku, Oia sedang apa kamu malam-malam keluyuran disini?” Tanya Andre padaku.
“Aku, aku, aku hanya mencari angin saja. Dan, dan kamu sedang apa disini! Bukankah kamu sedang di luar negeri?” Tukas Ku mengalihkan pembicaraan.
“Aku merindukanmu, makanya aku kembali,” goda Andre sambil mencubit hidungku. Entah kenapa ada perasaan manis saat aku mendengarnya.
“Omong kosong, bukankah kau tidak akan kembali sebelum orang tuamu sukses,” sindir ku sambil melipat kedua tangan.
“Mm itu, bagaimana kalau kita bicara disana saja sambil minum segelas kopi!” Tunjuk Andre ke salah satu cafe di seberang jalan.
“Tapi, aku!” Sebelum aku menolak, Andre sudah lebih dulu menggenggam tanganku.
“Ayo. Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu, jadi tolong jangan menolak ku,” akhirnya dengan berat hati, aku berjalan mengikutinya. Ada perasaan senang dan haru karena sudah tiga tahun lamanya kami tidak berjumpa.
“Oia, kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi, sedang apa malam-malam keluyuran!” Tanya Andre kembali.
“Bukankah aku sudah menjawabnya tadi, aku disini sedang mencari angin saja,” jawabku sedikit ketus.
“Apa kau yakin!” Imbuhnya lagi.
“Tentu saja. Dan jika tidak ada yang penting, aku pergi dulu,” gumamku sambil menarik kursi.
“Baiklah aku percaya. Tapi, bisakah kau menatapku?” Pinta Andre, sambil menahan tanganku.
“Tidak mau,” tolak ku sambil memalingkan wajah.
“Berarti kau sedang berbohong. Aku mengenalmu bukan sehari atau dua hari Mel, bahkan dari raut wajah mu pun sudah terlihat jika kau sedang kebingungan!” Lagi-lagi aku tidak bisa berkata apapun, pasalnya sejak dulu Andre selalu saja bisa menebaknya.
“Omong kosong,” tegas ku pada Andre.
“Ceritakan padaku, semoga aku bisa membantumu?” Tawar Andre sambil merengkuh tubuh ku.
“Hiks, hiks, hiks. Andre ibu, ibuku Andre ibuku!” Tangis ku pecah saat bahu hangat dan kokoh yang dulu menghilang kini dapat aku rasakan hangatnya kembali.
“Ada apa dengan tante Irma, Mel? Dia baik-baik saja kan!” Tanya Andre sekaligus.
“Ibuku dia, dia sedang sakit. Dan besok dia harus segera di operasi Drew, aku bingung harus bagaimana! Hiks,, hiks,, hiks,” lirih ku sambil terisak.
“Memangnya tante Irma sakit apa Mel?” imbuhnya lagi, sambil merengkuh tubuhku kembali.
“Ibuku mengidap kanker payudara kronis stadium akhir Drew, dan dokter hanya memberiku waktu sampai besok sore saja. Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang, hanya dia yang aku punya di dunia ini, aku tidak sanggup jika harus kehilangan dia.” Papar ku dengan membalas pelukan, Andre.
“Berapa banyak biaya yang di butuhkan untuk operasi tante Irma, Mel?” Sebenernya aku malu mengatakan ini pada Andre. Tapi, demi keselamatan ibuku, aku rela.
“Dua, 200 juta Drew. Aku, aku tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu dimana, yang jelas apapun akan aku lakukan demi mendapatkan uang itu,” jawabku sedikit gemetar.
“Apa kau yakin, Mel? Maksud ku di zaman sekarang mana mungkin bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu sekejap. Jika bukan kamu menjual-” Andre sengaja menjeda ucapannya, agar aku tidak tersinggung. Justru aku semakin ingin tahu apa pekerjaan apa yang bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam waktu sekejap.
“Menjual apa, Drew? Katakan padaku, apapun akan aku lakukan demi keselamatan ibuku.” Tanya ku dengan sedikit tidak sabar.
“Hanya ada satu pekerjaan yang sangat mudah mendapatkan uang itu dalam sekejap. Hanya saja aku tidak ikhlas jika kau memasuki dunia itu,” terang Andre, dengan menatap wajah ku.
“Aku tidak perduli seberapa buruk dan kotornya pekerjaan itu, Drew. Yang jelas aku sangat membutuhkannya,” tekad ku semakin bulat, dan aku sangat yakin aku mampu melakukannya.
“Baiklah besok siang datang ke alamat ini jam 10:45. Pakai baju yang rapi dan seksi, jangan sampai terlambat, aku menunggumu disana,” tutur Andre, sambil memberikan secarik kertas pada ku. Tapi, yang membuat ku penasaran mengapa aku harus memakai baju seksi. Atau jangan-jangan?
“Drew, apa ini semacam,” gumamku sambil menatap wajah Andre, yang terlihat bersalah.
“Iya Mel, hanya itu satu-satunya jalan yang ada. Aku ingin sekali membantu mu tapi, aku pun tidak memiliki uang sebanyak itu Mel,” ucap Andre lirih. Aku mengerti dengan maksud Andre, tapi apa harus aku melakukannya!
“Aku mengerti Drew, terima kasih sudah mau membantuku. Tunggu aku disana Drew, aku pasti datang,” seutas senyum terukir di bibir Andre, membentuk bulan sabit yang sangat indah. Sebenarnya aku tidak rela jika harus melakukan ini, tapi demi keselamatan ibuku mau tidak mau aku harus melakukannya.









